Jenis-Jenis Investasi

Berinvestasi apapun pastinya memiliki resiko, oleh karenanya pelajari lebih dahulu tata cara berinvestasi, jenis investasi yang sesuai dengan kebutuhan, pelaksanaan dari investasi dan komponen-komponen yang mendukung investasi itu sendiri. Investasi itu sendiri dibagi menjadi 2 bagian, yakni investasi jangka pendek dan jangka panjang.

Berikut ini ada jenis-jenis investasi mulai dari jangka pendek hingga jangka panjang :

1. Investasi Jangka Pendek

a. Tabungan di Bank

Investasi dengan menabung di bank memang lebih aman, namun tinkgat pengembalian atau presentase perolehan bunga relatif kecil.

b. Deposito

Jenis investasi seperti deposito memang agak lebih menguntungkan dibanding investasi dengan cara menabung di bank, karena deposito memiliki daya tambah bunga atau tingkat pengembalian yang relatif besar, namun sayangnya jenis investasi deposito ini memiliki kelemahan, yakni uang tidak dapat ddikeluarkan, ditarik atau dicairkan saat diperlukan. Deposito dapat diberikan dan dicairkan sesuai ketentuan waktu yang telah ditetapkan.

c. Instrumen pasar uang (Money Market Instruments)

Produk-produk money market fund yang populer di Indonesia adalah sertifikat Bank Indonesia (SBI), repurchase-SBI, overnight interbank, negotiable certificate of deposit (NCD). Untuk membeli produk-produk tersebut dibutuhkan dana yang relatif besar. Tingkat pengembalian yang dapat diperoleh pada umumnya lebih besar dari deposito dan dalam hal produk seperti SBI sangat aman, karena mendapat jaminan dari pemerintah.

2. Investasi Jangka Panjang

a. Obligasi (Bonds)

Adalah Surat hutang yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan untuk mendapatkan dana. Namun resiko dari obligasi ini cukup besar karena apabila sudah jatuh tempo dari waktu yang telah ditentukan perusahaan blum dapat membayar hutangnya, maka nilai atau jumlah hutang semakin besar, meskipun bunga obligasi ini lebih besar daripada bunga deposito. Sehingga sedikit sekali para investor individu yang mampu membelinya.

b. Saham

Sebuah perusahaan juga bisa mendapatkan dana dari para investor dengan mengeluarkan atau menerbitkan saham. Berbeda dengan obligasi, saham adalah sebuah pernyataan dan bukan merupakan surat hutang dan tidak ditebus penerbitnya.

c. Reksa Dana (Mutual Funds)

Para investor dapat melakukan nvestasi namun tidak langsung yakni menggunakan perantaraan perusahaan reksa dana. Dana-dana yang terkumpul dari para investor dalam jumlah yang cukup besar akan meningkatkan posisi tawa-menawar dari perusahaan reksa dana.

d. Investasi program pensiun

Perusahaan asuaransi di Indonesi begitu banyak dan sudah menjamur dengan memasarkan dan memperkenalkan produk-produk unggulannya yang dipadukan dengan program investasi dana pensiun. Apabila tiba masa pensiun, investor akan mendapatkan sejumlah dana yang berasal dari hasil pengembangan dari pihak perusahaan asuransi. Namun investasi dan aprogram pensium ini tidak banyak meghasilkan bunga dibanding menabung pada sebuah bank tertentu yang sifat bunganya lebih besar dan tidak menentu dibanding dengan investasi dana pensiun. besar keuntungan dan bunga yang diperoleh tergantung dari besar kecilnya keuntungan yang diperoleh dari perusahaan asuransi.

e. Investasi Emas

Emas yang termasuk dalam logam mulia 99,99% merupakan salah satu logam berharga dan langka yang kehadirannya dapat diterima oleh kalangan umum. Emas yang sifatnya mudah dibentuk dan sering digunakan sebagai perhiasan menjadikan emas sebagai alat investasi yang aman dan menguntungkan.

Dalam keadaan yang tidak menentu, banyak orang beralin investasi ke emas karena emas memiliki nilai jual yang lebih stabil dan dianggap sebagai pengganti mata uang tanpa batasan asset yang penting dan aman kapan saja bisa diuangkan saat dibutuhkan. Nilai tukar US Dollar yang sama dan searah dengan emas, membuat investor beralih investasi ke emas dengan keuntungan yang berlipat apabila harga jual beli emas sedang melonjak naik.

This entry was posted in Investasi Saham, Jual Beli Saham and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Jenis-Jenis Investasi

  1. Ummul says:

    Ibaratnya begini :sebuah negraa kalau tidak ada polisinya itu gimana nasibnya ? pasti penduduk di negraa tsb bisa menjadi seenaknya sendiri dan tanpa hukum kan dan pasti kacau.nah regulator yang benar itu = polisi tersebut, jadi bisa ada yang mengawasi dan sebagai pihak tengah siapa yang benar dan yang salah, serta memiliki hukum sebagai landasannya.apalagi yang terdaftar di CFTC tersebut itu pasti bagus, karena sebuah broker untuk bisa menjadi anggota di CFTC itu minimal harus memberikan jaminan sebesar $20 juta (sekitar Rp.200 M) untuk memastikan dia tidak scam, nah kalau bukan perusahaan yang kuat tidak akan bisa memberikan $20 juta tsb kan.selain itu harus transparan dalam laporan keuangannya, belum lagi bila ada komplain dan pelanggaran2 itu pasti akan dipublikasikan oleh CFTC agar benar2 transparan. Nah di jenis regulator lain tidak ada yang seperti itu.Oleh karena itu kenapa broker yang terdaftar juga di CFTC itu lebih aman dan kredibel , ya karena faktor2 tsb ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>